dua tahun
lalu, sesosok imam yang selama ini menaungiku harus pergi meninggalkanku,
ibuku, dan keluargaku. bukan hal mudah untuk begitu saja meyakini kepergiannya,
aku tahu ini pasti terjadi, aku hanya merasa belum mampu saja. ia pergi tanpa
mengucapkan salam perpisahan denganku. kadang aku marah dengan semua ini, tapi
tak pantaslah aku menolak takdir yang telah tertulis untukku. selama dua tahun
aku terus memimpikannya, mungkin itu satu-satunya cara baginya untuk melepasku
secara perlahan. sejujurnya sampai saat ini aku belum mampu menemukan pengganti
baginya. kini yang kumiliki adalah kenangan-kenangan kelembutan kasih sayang
yang tak pernah putus darinya, bagaimana ia memanjakanku, segala yang ia
berikan selalu berbeda dengan yang orang lain berikan. aku baru menyadari
betapa ia menyayangiku, ia satu-satunya orang yang bisa mengertiku dengan
sedikitnya pertemuan antara kami, aku masih sering merindukan nasihat-nasihat
menenangkan darinya, seakan ia tahu mana yang terbaik bagiku. dan hal terburuk
adalah aku hanya meletakkan semua kepercayaanku padanya sehingga apapun yang
orang lain katakana sulit bagiku untuk mempercayainya. kini.. aku butuh
tuntunan darinya namun kemarin dalam mimpiku ia berpamitan seakan enggan
menemaniku lagi. aku menangis ya aku selalu menangis tiap mengenangnya. apakah
semua orang akan selalu sepertiku saat mengenang ia yang kita cintai yang telah
pergi? ah, aku lelah meneteskan airmata yang tak pernah mampu menyelesaikan dan
menghilangkan gundah dalam hati. hanya dia yang mampu.
saat aku
melihat ibu aku selalu teringat tentang imamku. sosok ibuku tak jauh darinya.
mereka telah melewati bersama masa yang tak singkat. aku berdoa pada tuhanku
agar jangan mengambil ibuku terlebih dahulu. tahu kenapa? karena setelah ayah
hanya ibuku yang bisa menenangkanku. dan lagi-lagi sungai airmata mengalir di
pipi. ibu aku merindukan sebuah pelukan hangatmu. aku ingin bercerita banyak
tentang masa-masa yang telah kulalui tanpa kalian. aku ingin kau tahu bagaimana
anak kecilmu kini telah mencapai ujung usia remajanya. aku ingin kau
mendengar bagaimana gadis kecilmu
mencoba berdiri sendiri di tengah badai di sebuah tempat asing. maafkan aku
yang tak pernah berusaha mendekatkan diri padamu bukan apa namun yang kutemukan
setiap kali sosok keteduhanmu hadir kau selalu dalam kelelahan aku yang
meskipun tidak mengerti banyak tentang sopan santun tak pernah ingin menganggu
istirahatmu dan yang bisa kulakukan hanya kembali menyimpan kisah-kisahku.
kadang aku berfikir mungkin aku yang tak pernah bersyukur. ntahlah yang pasti
saat ini aku merindukan kehadiran keduanya dalam hidupku. aku ingin mereka
hadir dan menyaksikan segala perubahan dalam diriku menuju kedewasaan.
di ujung
segala sungai airmataku ku titipkan sebuah doa untuk keduanya kepada tuhanku
yang maha mengerti tentang hambanya, “ tuhan jaga keduanya untukku, dan jagalah
aku untuk keduanya, tuhan engkau maha kuasa,
tak jarang aku malu dengan semua yang kulakukan pada-Mu. sering aku
lebih menganggapmu sebagai kawan, sebagai sumber kebaikan, sumber segala takdir
yang akan kumiliki, meminta ini meminta itu dengan sesuka hati seakan kehadiran-Mu
adalah untuk membantuku dan bukankah memang seperti itu kenyataanya? tuhanku
yang maha penyayang dan pengampun maafkan segala dosaku dan dosa mereka berdua,
terimalah semua pengorbanan kami untuk tetap bisa berjalan di jalan-Mu terima
kasih atas semua masa dan kenangan indah yang telah, sedang dan akan kau
berikan kepada kami, mudahkanlah segala urusan kami untuk bisa tetap mengalir
bersama arus lurus menuju kasih sayang dan ridha-Mu”