Sunday, May 27, 2012

di ujung kerinduan

dua tahun lalu, sesosok imam yang selama ini menaungiku harus pergi meninggalkanku, ibuku, dan keluargaku. bukan hal mudah untuk begitu saja meyakini kepergiannya, aku tahu ini pasti terjadi, aku hanya merasa belum mampu saja. ia pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan denganku. kadang aku marah dengan semua ini, tapi tak pantaslah aku menolak takdir yang telah tertulis untukku. selama dua tahun aku terus memimpikannya, mungkin itu satu-satunya cara baginya untuk melepasku secara perlahan. sejujurnya sampai saat ini aku belum mampu menemukan pengganti baginya. kini yang kumiliki adalah kenangan-kenangan kelembutan kasih sayang yang tak pernah putus darinya, bagaimana ia memanjakanku, segala yang ia berikan selalu berbeda dengan yang orang lain berikan. aku baru menyadari betapa ia menyayangiku, ia satu-satunya orang yang bisa mengertiku dengan sedikitnya pertemuan antara kami, aku masih sering merindukan nasihat-nasihat menenangkan darinya, seakan ia tahu mana yang terbaik bagiku. dan hal terburuk adalah aku hanya meletakkan semua kepercayaanku padanya sehingga apapun yang orang lain katakana sulit bagiku untuk mempercayainya. kini.. aku butuh tuntunan darinya namun kemarin dalam mimpiku ia berpamitan seakan enggan menemaniku lagi. aku menangis ya aku selalu menangis tiap mengenangnya. apakah semua orang akan selalu sepertiku saat mengenang ia yang kita cintai yang telah pergi? ah, aku lelah meneteskan airmata yang tak pernah mampu menyelesaikan dan menghilangkan gundah dalam hati. hanya dia yang mampu.
saat aku melihat ibu aku selalu teringat tentang imamku. sosok ibuku tak jauh darinya. mereka telah melewati bersama masa yang tak singkat. aku berdoa pada tuhanku agar jangan mengambil ibuku terlebih dahulu. tahu kenapa? karena setelah ayah hanya ibuku yang bisa menenangkanku. dan lagi-lagi sungai airmata mengalir di pipi. ibu aku merindukan sebuah pelukan hangatmu. aku ingin bercerita banyak tentang masa-masa yang telah kulalui tanpa kalian. aku ingin kau tahu bagaimana anak kecilmu kini telah mencapai ujung usia remajanya. aku ingin kau mendengar  bagaimana gadis kecilmu mencoba berdiri sendiri di tengah badai di sebuah tempat asing. maafkan aku yang tak pernah berusaha mendekatkan diri padamu bukan apa namun yang kutemukan setiap kali sosok keteduhanmu hadir kau selalu dalam kelelahan aku yang meskipun tidak mengerti banyak tentang sopan santun tak pernah ingin menganggu istirahatmu dan yang bisa kulakukan hanya kembali menyimpan kisah-kisahku. kadang aku berfikir mungkin aku yang tak pernah bersyukur. ntahlah yang pasti saat ini aku merindukan kehadiran keduanya dalam hidupku. aku ingin mereka hadir dan menyaksikan segala perubahan dalam diriku menuju kedewasaan.

di ujung segala sungai airmataku ku titipkan sebuah doa untuk keduanya kepada tuhanku yang maha mengerti tentang hambanya, “ tuhan jaga keduanya untukku, dan jagalah aku untuk keduanya, tuhan engkau maha kuasa,  tak jarang aku malu dengan semua yang kulakukan pada-Mu. sering aku lebih menganggapmu sebagai kawan, sebagai sumber kebaikan, sumber segala takdir yang akan kumiliki, meminta ini meminta itu dengan sesuka hati seakan kehadiran-Mu adalah untuk membantuku dan bukankah memang seperti itu kenyataanya? tuhanku yang maha penyayang dan pengampun maafkan segala dosaku dan dosa mereka berdua, terimalah semua pengorbanan kami untuk tetap bisa berjalan di jalan-Mu terima kasih atas semua masa dan kenangan indah yang telah, sedang dan akan kau berikan kepada kami, mudahkanlah segala urusan kami untuk bisa tetap mengalir bersama arus lurus menuju kasih sayang dan ridha-Mu”